Sidoarjo, Kampus Ursulin – Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, perbincangan mengenai AI vs. buku semakin relevan dalam dunia pendidikan. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menawarkan akses informasi yang cepat, luas, dan interaktif. Sementara itu, buku, dalam bentuk cetak maupun digital, tetap menjadi simbol klasik dari pembelajaran yang mendalam dan reflektif. Pertanyaannya bukan lagi sekadar mana yang lebih unggul, melainkan bagaimana keduanya dapat dipahami secara tepat dalam membentuk cara belajar generasi masa kini.
AI menghadirkan efisiensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam hitungan detik, siswa dapat memperoleh penjelasan, ringkasan, bahkan simulasi pembelajaran yang kompleks. Teknologi ini membuka peluang besar bagi personalisasi pendidikan, yaitu materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing individu. Namun, kecepatan dan kemudahan ini juga membawa tantangan: risiko ketergantungan, kurangnya proses berpikir mendalam, serta kecenderungan menerima informasi tanpa refleksi kritis.
Di sisi lain, buku menawarkan pengalaman yang berbeda. Membaca buku melatih konsentrasi, kesabaran, dan kemampuan berpikir analitis. Proses membaca yang linear memungkinkan pembaca untuk membangun pemahaman secara bertahap sekaligus mengembangkan imajinasi dan kedalaman refleksi. Buku tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara berpikir yang terstruktur dan matang.

Dalam konteks pendidikan di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, relasi antara AI dan buku tidak perlu diposisikan sebagai pertentangan, melainkan sebagai dialog yang saling melengkapi. Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing siswa untuk menggunakan teknologi secara bijak tanpa kehilangan esensi pembelajaran yang mendalam. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperluas wawasan, sementara buku tetap menjadi fondasi dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat pendidikan holistik yang menekankan keseimbangan antara inovasi dan nilai-nilai dasar pembelajaran. Siswa tidak hanya diajak untuk menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembaca yang aktif dan pemikir yang mandiri. Dengan demikian, mereka mampu menyaring informasi, memahami konteks, dan mengembangkan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. (SD Santa Maria)