Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Tanggal 21 Februari 2026 diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, sebuah momentum global yang menegaskan pentingnya pelestarian bahasa sebagai identitas budaya dan sarana pembentukan jati diri. Hari ini pertama kali dicanangkan oleh UNESCO sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman bahasa di dunia, sekaligus pengingat bahwa setiap bahasa ibu memuat sejarah, nilai, dan kearifan lokal yang tak tergantikan. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang tempat ingatan kolektif dan makna kehidupan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam konteks pendidikan, Hari Bahasa Ibu Internasional memiliki relevansi yang mendalam. Bahasa pertama yang dipelajari seorang anak adalah medium awal untuk memahami dunia—melalui bahasa ibu, anak mengenal kasih sayang, norma, serta cara berpikir yang membentuk struktur kognitifnya. Secara pedagogis, penguasaan bahasa ibu yang kuat berkontribusi signifikan terhadap kemampuan literasi, nalar kritis, dan pembelajaran bahasa kedua. Dengan kata lain, fondasi bahasa ibu yang kokoh memperluas cakrawala intelektual anak.

Bagi SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, peringatan ini menjadi refleksi penting tentang makna bahasa dalam pendidikan dasar. Sekolah tidak hanya mengajarkan tata bahasa dan kosakata, melainkan juga menanamkan kesadaran bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, serta ragam bahasa daerah yang dimiliki siswa, adalah kekayaan yang patut dihargai. Dalam ruang kelas yang majemuk, bahasa menjadi jembatan yang menyatukan latar belakang budaya yang beragam.
Hari Bahasa Ibu Internasional juga mengajak seluruh warga sekolah untuk memahami bahwa pelestarian bahasa adalah bentuk penghormatan terhadap identitas. Di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa internasional, menjaga keberlangsungan bahasa ibu berarti menjaga keunikan perspektif dan cara pandang suatu komunitas. Pendidikan yang berakar pada bahasa sendiri membangun rasa percaya diri sekaligus sikap terbuka terhadap perbedaan.
Secara filosofis, bahasa membentuk cara manusia menafsirkan realitas. Kata-kata yang digunakan memengaruhi bagaimana seseorang memahami nilai, relasi, dan makna hidup. Oleh karena itu, merawat bahasa ibu bukan hanya tugas linguistik, melainkan tanggung jawab moral dan kultural. Di lingkungan SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, kesadaran ini selaras dengan visi pendidikan yang menumbuhkan integritas, penghargaan terhadap keberagaman, serta kecintaan pada budaya bangsa. Peringatan 21 Februari 2026 ini menjadi pengingat bahwa pendidikan dasar adalah tahap strategis dalam membangun literasi yang berakar kuat. Dengan memuliakan bahasa ibu, sekolah turut menjaga warisan budaya sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan identitasnya. Hari Bahasa Ibu Internasional pada akhirnya bukan hanya tentang bahasa, melainkan tentang martabat manusia yang terjaga melalui kata-kata yang diwariskan dan dihidupi.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. - SD Santa Maria Sidoarjo