Sidoarjo, Kampus Ursulin — Sanmaris, di sebuah pagi yang sarat makna, halaman SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo tidak sekadar menjadi ruang berkumpul, melainkan berubah menjadi dermaga simbolik, tempat di mana para siswa kelas VI bersiap meninggalkan pelabuhan lama untuk mengarungi samudera kehidupan yang lebih luas.
Pelepasan tahun ini mengusung tema “Bentangkan Layar, Jelajahi Samudera”, sebuah metafora yang kaya akan makna pedagogis sekaligus eksistensial. Rangkaian acara diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Patra. Dalam tradisi Katolik, misa bukan sekadar pembuka seremonial, melainkan fondasi spiritual yang menata arah seluruh peristiwa. Di dalamnya, terdapat ritus yang mengajak setiap individu untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, masuk ke dalam keheningan refleksi, dan menyadari bahwa setiap perjalanan manusia selalu berada dalam horizon yang lebih besar, yakni penyelenggaraan ilahi.

Dalam homilinya, Romo Patra mengangkat citra laut sebagai simbol kehidupan: luas, tak terduga, namun penuh kemungkinan. Ia menegaskan bahwa “membentangkan layar” bukan hanya soal keberanian untuk pergi, tetapi juga kesiapan untuk menghadapi angin, baik yang menguntungkan maupun yang menantang. Pesan ini sederhana, namun memiliki kedalaman filosofis: hidup tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan, tetapi manusia selalu memiliki tanggung jawab untuk menavigasinya dengan kebijaksanaan dan iman.
Pelepasan kelas VI pada dasarnya adalah sebuah ritus peralihan, sebuah momen liminal dalam istilah antropologi, di mana seseorang berdiri di antara masa lalu dan masa depan. Di satu sisi, para siswa meninggalkan dunia yang telah mereka kenal selama bertahun-tahun: ruang kelas, guru, dan ritme belajar yang familiar. Di sisi lain, they mulai memasuki fase baru yang menuntut kemandirian lebih besar, baik secara intelektual maupun emosional.
Tema “jelajahi samudera” menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Ia mengandung ajakan untuk tidak hanya bergerak secara fisik menuju jenjang pendidikan berikutnya, tetapi juga berkembang secara batiniah. Samudera di sini bukan sekadar dunia luar, melainkan juga kedalaman diri: kemampuan untuk mengenal siapa diri kita, apa nilai yang kita pegang, dan bagaimana kita merespons dunia yang kompleks. Bagi SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, momen pelepasan ini mencerminkan komitmen terhadap pendidikan yang utuh. Sekolah tidak hanya “mengantar” siswa sampai lulus, tetapi juga membekali mereka dengan fondasi karakter, iman, dan daya refleksi yang akan menjadi kompas dalam perjalanan mereka ke depan.
Pada akhirnya, hari pelepasan ini bukanlah perpisahan dalam arti kehilangan, melainkan transformasi dalam arti pertumbuhan. Seperti kapal yang meninggalkan pelabuhan, para siswa tidak benar-benar pergi dari tempat asalnya; mereka justru membawa nilai-nilai yang telah ditanamkan ke dalam perjalanan mereka. Dan di sanalah makna terdalam dari hari itu: sebuah awal yang lahir dari keberanian untuk melangkah, dengan layar yang telah dibentangkan dan hati yang siap menjelajah.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. (SD Santa Maria)