Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris – Di penghujung Tahun Ajaran 2025/2026, SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo menghidupi sebuah momen yang melampaui rutinitas akademik: perayaan Ekaristi penutup tahun ajaran yang dipimpin oleh Romo Antonius Puri Anggoro. Misa ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan sebuah peristiwa spiritual yang merangkum perjalanan belajar selama satu tahun dalam bingkai syukur dan refleksi.
Dalam tradisi Gereja Katolik, Ekaristi dipahami sebagai perayaan iman yang menghadirkan makna terdalam dari kebersamaan, pengorbanan, dan pembaruan hidup. Dalam konteks pendidikan, Ekaristi menjadi ruang di mana seluruh dinamika belajar, keberhasilan, tantangan, bahkan kegagalan dipersembahkan dan dimaknai kembali. Ia mengajarkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung pada ranah intelektual, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual manusia.

Misa akhir tahun ajaran sendiri merupakan tradisi yang menandai penutupan satu siklus pendidikan. Namun, lebih dari sekadar penanda waktu, ia berfungsi sebagai ruang kontemplatif yang mengajak siswa, guru, dan seluruh komunitas sekolah untuk berhenti sejenak. Mereka diajak merefleksikan perjalanan yang telah dilalui, serta menyusun harapan untuk langkah berikutnya.
Dalam keheningan doa dan ritus yang teratur, terdapat kesempatan untuk memahami bahwa setiap proses memiliki makna, bahkan ketika tidak selalu mudah. Dalam homilinya, Romo Puri menekankan pentingnya sikap syukur sebagai fondasi kehidupan. Syukur tidak hanya muncul dari keberhasilan, tetapi juga dari kesadaran bahwa setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menantang, membentuk pribadi yang lebih matang. Pesan ini menjadi sangat relevan bagi para siswa yang sedang berada di titik transisi menuju tahap pembelajaran berikutnya.
Misa ini merupakan manifestasi nyata dari visi pendidikan yang holistik. Sekolah tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kedalaman spiritual. Melalui perayaan ini, siswa diajak untuk melihat pendidikan sebagai perjalanan yang utuh—yang melibatkan pikiran, hati, dan iman.
Misa ini juga memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas sekolah. Dalam satu perayaan, seluruh elemen, yaitu para siswa, guru, dan staf dari kampus Santa Maria Ursulin Sidoarjo, berkumpul dalam semangat yang sama: bersyukur dan berharap. Ini mencerminkan bahwa pendidikan bukanlah perjalanan individual, melainkan pengalaman kolektif yang saling mendukung.
Pada akhirnya, misa penutup tahun ajaran bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Ia menjadi jembatan antara apa yang telah dilalui dan apa yang akan dihadapi. Di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, momen ini dihidupi sebagai kesempatan untuk meneguhkan kembali nilai-nilai iman, memperdalam rasa syukur, dan melangkah ke masa depan dengan harapan yang lebih terang.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. (SD Santa Maria)