News &
Updates

News Image

Share

Pendidikan dan Kecerdasan buatan: Siapa yang menang?
25 Mei 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Di tengah akselerasi teknologi global, sebuah pertanyaan mulai mengemuka dengan nada yang nyaris eksistensial: apakah pendidikan hari ini mulai kalah dari kecerdasan buatan? Kehadiran artificial intelligence (AI) telah mengubah lanskap pengetahuan secara radikal, menghadirkan jawaban instan, analisis cepat, dan akses tak terbatas terhadap informasi. Namun, dalam dinamika ini, penting untuk menelaah secara jernih: apakah pendidikan benar-benar tertinggal atau justru sedang mengalami transformasi mendalam?

Pendidikan, pada hakikatnya, tidak semata-mata tentang transfer informasi. Ia adalah proses pembentukan nalar, karakter, dan kepekaan moral. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara sistem pendidikan dan kecerdasan buatan. AI mampu mengolah data, tetapi tidak mengalami makna; ia dapat menjawab, tetapi tidak memahami dalam arti eksistensial. Maka, ketika AI tampak “lebih cepat” atau “lebih pintar”, sesungguhnya yang sedang kita saksikan adalah perbedaan fungsi, bukan kompetisi yang setara.

Momentum refleksi ini menjadi semakin relevan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional, sebuah hari yang mengingatkan bahwa pendidikan adalah fondasi utama peradaban. Hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang kontemplasi kolektif: apakah kita masih memahami esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia? Dalam konteks ini, kehadiran AI justru menguji ketahanan nilai-nilai pendidikan itu sendiri.

 

Integrasi teknologi di lingkungan sekolah pun perlu ditempatkan secara proporsional. Siswa diajak untuk mengenal dan memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar tanpa kehilangan kemampuan reflektif yang justru menjadi inti pendidikan. Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan proses belajar, melainkan memperkaya cara belajar itu sendiri.

Lebih jauh, pertanyaan “apakah pendidikan kalah dengan AI?” sejatinya mengandung asumsi yang perlu dikritisi. Pendidikan tidak berada dalam arena perlombaan dengan teknologi. Ia adalah ruang pembentukan manusia yang utuh, sesuatu yang tidak dapat direduksi menjadi algoritma. Justru di tengah dominasi teknologi, peran pendidikan menjadi semakin vital: menjaga kedalaman berpikir, kepekaan etis, dan makna kemanusiaan. Pada akhirnya, Hari Pendidikan Nasional mengajak kita untuk melihat kembali arah perjalanan ini. Di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, pendidikan tidak kalah; ia sedang beradaptasi, memperkuat diri, dan menemukan relevansinya di era baru. Sebab, selama pendidikan tetap berakar pada nilai dan tujuan yang benar, ia tidak akan pernah tertinggal, melainkan selalu menjadi penuntun bagi masa depan.

Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. (SD Santa Maria)