News &
Updates

News Image

Share

Sejarah Valentine
2 Februari 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris. Sejarah Hari Valentine yang diperingati setiap bulan Februari sering kali dipahami secara sederhana sebagai hari kasih sayang. Namun, di balik simbol-simbol populer seperti kartu, bunga, dan cokelat, Hari Valentine memiliki akar historis dan makna etis yang jauh lebih mendalam. Penelusuran sejarahnya membawa kita pada tradisi Romawi kuno dan kesaksian iman Kristiani awal yang menekankan nilai cinta sebagai pengorbanan dan kesetiaan.

Secara historis, Hari Valentine dikaitkan dengan Santo Valentinus, seorang imam dan—menurut beberapa sumber—juga seorang martir yang hidup pada abad ke-3 Masehi di masa Kekaisaran Romawi. Dalam situasi politik yang represif, Santo Valentinus dikenal karena keberaniannya menolong sesama, termasuk memberkati pasangan yang hendak menikah secara rahasia ketika praktik tersebut dilarang oleh negara. Tindakan ini bukan semata romantisme, melainkan bentuk keberpihakan pada martabat manusia dan kebebasan nurani. Ia akhirnya dihukum mati pada tanggal 14 Februari, yang kemudian dikenang sebagai hari perayaannya. Seiring berjalannya waktu, peringatan religius ini bertransformasi melalui tradisi Eropa Abad Pertengahan, terutama lewat sastra dan budaya yang mengaitkan Februari dengan kebangkitan cinta dan kehidupan. Namun, makna awal Valentine sebagai perayaan kasih yang setia, berani, dan bertanggung jawab tetap menjadi inti yang tidak boleh dilupakan, terlebih dalam konteks pendidikan.

Bagi SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, Hari Valentine dapat dimaknai bukan sebagai perayaan romantis yang sempit, melainkan sebagai momen edukatif untuk menanamkan nilai kasih sejati kepada peserta didik. Kasih yang dimaksud adalah kasih yang inklusif dan aktif: kasih kepada teman, guru, keluarga, dan sesama tanpa membedakan. Nilai ini sejalan dengan spiritualitas Ursulin yang diwariskan oleh Santa Angela Merici, yang menempatkan cinta sebagai dasar pendidikan dan pelayanan. Dalam lingkungan sekolah dasar, peringatan Hari Valentine menjadi sarana pedagogis untuk membentuk kepekaan sosial dan empati. Anak-anak diajak memahami bahwa kasih sayang dapat diwujudkan melalui sikap sederhana namun bermakna: berbagi, saling menghormati, menolong teman yang kesulitan, serta menjaga perkataan dan perbuatan. Dengan pendekatan ini, Valentine tidak berhenti pada simbol, melainkan menjadi praksis nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Secara reflektif, Hari Valentine mengingatkan komunitas SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo bahwa pendidikan sejati selalu berakar pada relasi yang dilandasi kasih. Sejarah Santo Valentinus mengajarkan bahwa cinta bukanlah sekadar perasaan, melainkan keputusan moral untuk berbuat baik, bahkan ketika itu menuntut keberanian dan pengorbanan. Dalam semangat inilah, peringatan Valentine di sekolah menjadi momentum untuk meneguhkan karakter peserta didik agar tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, beriman, dan berbelarasa, serta siap menjadi pembawa kasih di tengah masyarakat.

 

Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil.