Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Di tengah derasnya arus digital dan globalisasi, budaya dan bahasa memegang peranan yang semakin kompleks dalam kehidupan anak-anak "zaman now". Generasi yang tumbuh bersama gawai, media sosial, dan akses informasi tanpa batas ini mengalami transformasi cara berkomunikasi, berpikir, bahkan memandang diri mereka sendiri. Bahasa tidak lagi sekadar sarana menyampaikan pesan, melainkan juga simbol identitas, ekspresi kreativitas, dan penanda keanggotaan dalam komunitas tertentu.
Budaya populer yang tersebar melalui platform digital menghadirkan ragam kosakata baru, singkatan, hingga istilah asing yang cepat diadopsi dalam percakapan sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti konteks zamannya. Namun, di balik dinamika tersebut, terdapat tantangan mendasar: bagaimana menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap pengaruh global dan kesetiaan pada akar budaya sendiri. Secara pedagogis, bahasa membentuk struktur kognitif anak. Cara mereka menyusun kalimat mencerminkan cara mereka menyusun gagasan. Ketika budaya instan dan komunikasi serba cepat mendominasi, risiko penyederhanaan makna dan berkurangnya kedalaman berpikir menjadi perhatian penting. Oleh karena itu, pendidikan dasar memiliki tanggung jawab strategis untuk menumbuhkan literasi yang matang; literasi yang tidak hanya lancar membaca dan menulis, tetapi juga kritis, reflektif, dan beretika dalam berbahasa.

Bagi SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, isu ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari komitmen pendidikan karakter. Sekolah memahami bahwa membimbing anak "zaman now" berarti mengarahkan mereka agar mampu menggunakan bahasa secara bijak—baik dalam percakapan langsung maupun di ruang digital. Bahasa yang santun mencerminkan sikap hormat; pilihan kata yang tepat menunjukkan kedewasaan berpikir; dan kemampuan menyimak menjadi tanda empati terhadap sesama.
Budaya, pada saat yang sama, membentuk nilai dan perilaku. Anak-anak belajar dari lingkungan sekitar, keluarga, sekolah, dan media tentang apa yang dianggap baik, benar, dan pantas. Jika budaya yang dominan mengedepankan kecepatan dan popularitas, maka pendidikan perlu menghadirkan penyeimbang berupa kedalaman, ketekunan, dan integritas. Inilah makna reflektif dari pembinaan budaya dan bahasa di lingkungan sekolah: membentuk generasi yang adaptif tanpa kehilangan arah moral.
Tema tentang pengaruh budaya dan bahasa ini relevan untuk direnungkan kapan pun karena ia menyentuh realitas keseharian siswa. Ia bukan sekadar peringatan hari tertentu, melainkan kesadaran berkelanjutan bahwa identitas dibangun melalui kata-kata dan kebiasaan yang dihidupi. Di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, pendidikan diarahkan agar siswa mampu berdialog dengan dunia modern tanpa tercerabut dari nilai luhur bangsa. Pada akhirnya, anak "zaman now" bukan hanya penerima budaya, melainkan juga pencipta budaya. Dengan pembinaan bahasa yang baik dan pemahaman budaya yang bijaksana, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang kreatif, kritis, serta berakar kuat pada identitasnya.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. - SD Santa Maria Sidoarjo