News &
Updates

News Image

Share

Apa makna Jumat Agung bagi kita?
7 April 2026

Sidoarjo, Kampus Ursulin - Sanmaris – Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, Jumat Agung (Good Friday) merupakan salah satu hari yang paling hening sekaligus mendalam maknanya. Hari ini memperingati sengsara dan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib—sebuah peristiwa yang menjadi pusat iman Kristiani. Tidak seperti perayaan lain yang dipenuhi sukacita, Jumat Agung dihayati dalam suasana keheningan, doa, dan permenungan yang intens sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan yang diyakini membawa keselamatan bagi umat manusia.

Secara teologis, Jumat Agung tidak hanya berbicara tentang penderitaan, melainkan tentang kasih yang radikal. Dalam tradisi Gereja, wafat Kristus dipahami sebagai tindakan kasih yang total—sebuah pemberian diri tanpa syarat demi keselamatan orang lain. Dengan demikian, salib tidak semata-mata menjadi simbol penderitaan, tetapi juga tanda harapan dan penebusan. Paradoks inilah yang menjadi inti refleksi: bahwa dalam penderitaan yang paling dalam, justru terkandung makna kasih yang paling tinggi.

 

Bagi umat Katolik, Jumat Agung merupakan undangan untuk memasuki refleksi batin yang mendalam. Umat diajak untuk merenungkan kehidupan pribadi—tentang relasi dengan sesama, kesalahan dan kelemahan, serta panggilan untuk hidup dalam kasih yang lebih nyata. Liturgi Jumat Agung yang khas, seperti pembacaan kisah sengsara dan penghormatan salib, menjadi sarana simbolik yang membantu umat memasuki misteri iman tersebut secara lebih konkret.

Dalam konteks pendidikan, khususnya di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, makna Jumat Agung memiliki dimensi pembentukan karakter yang sangat kuat. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan iman, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Melalui refleksi Jumat Agung, siswa diajak untuk memahami arti pengorbanan, kerendahan hati, serta kasih terhadap sesama.

Nilai-nilai ini dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Misalnya, melalui sikap saling membantu, memaafkan, dan menghargai satu sama lain. Anak-anak belajar bahwa kasih bukan hanya konsep abstrak, melainkan tindakan nyata yang diwujudkan dalam hal-hal sederhana. Dengan demikian, Jumat Agung menjadi lebih dari sekadar peringatan liturgis; ia menjadi pengalaman pendidikan yang membentuk kepekaan moral dan spiritual siswa. Semangat pendidikan Ursulin yang menekankan cinta kasih dan pelayanan menemukan relevansinya dalam peringatan ini. Jumat Agung mengajarkan bahwa pelayanan sejati lahir dari kasih yang rela berkorban. Nilai ini menjadi fondasi bagi pembentukan pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang peduli dan peka terhadap kebutuhan orang lain.

 

Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. - SD Santa Maria Sidoarjo