Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Di tengah dominasi layar digital dan permainan berbasis teknologi, ada satu dunia yang perlahan menjauh dari keseharian anak-anak: permainan tradisional. Nama-nama seperti engklek, gobak sodor, atau petak umpet kini tidak lagi seakrab dahulu. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan-permainan ini menyimpan nilai yang jauh melampaui sekadar hiburan. Dalam perspektif Cultural Studies, permainan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya yang membentuk identitas sosial dan cara berinteraksi suatu komunitas.
Permainan zaman dulu lahir dari ruang yang sederhana: halaman rumah, lapangan tanah, atau gang kecil di lingkungan tempat tinggal. Tanpa alat canggih, anak-anak menciptakan dunia mereka sendiri; dunia yang dipenuhi tawa, strategi, kerja sama, dan imajinasi. Dalam permainan gobak sodor, misalnya, anak-anak belajar tentang koordinasi tim dan kepercayaan. Dalam engklek, mereka melatih keseimbangan dan ketelitian. Semua berlangsung secara alami, tanpa instruksi formal, namun sarat pembelajaran.

Hari ini, kita tidak memiliki satu tanggal khusus yang secara universal memperingati permainan tradisional. Namun, refleksi atas keberadaannya menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman. Hilangnya permainan ini bukan sekadar perubahan bentuk hiburan, melainkan juga potensi hilangnya ruang interaksi sosial yang autentik. Anak-anak yang lebih banyak berinteraksi dengan layar cenderung kehilangan pengalaman langsung dalam membangun relasi, menyelesaikan konflik, dan memahami dinamika kebersamaan.
Di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, kesadaran akan pentingnya nilai-nilai ini mulai dihidupkan kembali melalui berbagai kegiatan yang mengintegrasikan permainan tradisional dalam proses belajar. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pelestarian budaya. Dengan menghadirkan kembali permainan-permainan lama, siswa diajak untuk mengalami bentuk kebersamaan yang lebih konkret dan bermakna. Pendekatan ini mencerminkan visi pendidikan yang holistik, di mana perkembangan intelektual berjalan seiring dengan pembentukan karakter sosial. Permainan tradisional menjadi medium yang efektif untuk menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, dan kreativitas. Dalam suasana yang sederhana, siswa belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada teknologi, melainkan pada relasi yang mereka bangun bersama. Permainan zaman dulu bukan sekadar kenangan, melainkan warisan yang layak dihidupkan kembali. Di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, upaya ini menjadi bagian dari komitmen untuk membentuk generasi yang tidak hanya modern, tetapi juga berakar pada nilai-nilai kebersamaan dan budaya. Sebab, di setiap langkah kecil di tanah lapang, tersimpan pelajaran besar tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil. (SD Santa Maria)