Sidoarjo, Kampus Ursulin – Sanmaris. Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas. Bagi umat Muslim, Ramadan merupakan bulan suci yang diisi dengan ibadah puasa, doa, serta berbagai bentuk refleksi spiritual. Namun, lebih dari sekadar praktik keagamaan, Ramadan juga menjadi momen sosial yang memperlihatkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan toleransi antarumat beragama. Nilai-nilai inilah yang juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman, termasuk di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo.
Sebagai lembaga pendidikan yang berakar pada tradisi humanis dan nilai-nilai penghargaan terhadap martabat setiap pribadi, SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo memandang keberagaman sebagai kekayaan yang harus dipelihara. Dalam konteks bulan Ramadan, sekolah menjadi ruang pembelajaran yang nyata bagi para siswa untuk memahami arti toleransi dalam kehidupan bersama. Meskipun sekolah ini berada dalam tradisi pendidikan Katolik, suasana penghormatan terhadap umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa tetap terasa kuat dalam keseharian di sekolah.
Toleransi di lingkungan sekolah tidak selalu hadir dalam bentuk kegiatan besar atau seremoni formal. Justru, nilai tersebut sering tampak dalam hal-hal sederhana namun bermakna. Para siswa diajak untuk memahami bahwa teman-teman mereka yang berpuasa sedang menjalani praktik spiritual yang penting dalam agama mereka. Sikap saling menghormati ini terlihat ketika siswa belajar menjaga suasana yang nyaman bagi teman-temannya yang sedang berpuasa—misalnya dengan tidak makan atau minum secara mencolok di hadapan mereka—serta menunjukkan empati terhadap pengalaman yang sedang dijalani oleh sesama.

Bagi para guru, momen Ramadan juga menjadi kesempatan pendidikan karakter yang sangat berharga. Melalui dialog ringan di kelas, siswa diperkenalkan pada makna puasa sebagai latihan pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sejatinya bersifat universal dan dapat dipahami oleh semua orang, terlepas dari latar belakang agama yang berbeda. Dengan pendekatan seperti ini, siswa tidak hanya belajar mengenai perbedaan, tetapi juga menemukan titik-titik kesamaan nilai yang memperkaya kehidupan bersama.
Di lingkungan SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo, semangat toleransi ini selaras dengan visi pendidikan yang menekankan pembentukan karakter, penghargaan terhadap keberagaman, serta semangat persaudaraan. Sekolah menjadi tempat anak-anak belajar bahwa hidup berdampingan secara damai bukan sekadar konsep abstrak, melainkan sikap nyata yang dipraktikkan setiap hari. Dalam suasana yang demikian, perbedaan agama tidak menjadi penghalang, melainkan kesempatan untuk belajar memahami satu sama lain.
Melalui pengalaman sehari-hari selama bulan Ramadan, para siswa juga memperoleh pelajaran penting tentang kehidupan dalam masyarakat yang plural. Mereka belajar bahwa toleransi bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi juga tentang menghormati dan mendukung sesama dalam menjalankan keyakinannya. Pendidikan semacam ini menanamkan fondasi penting bagi terbentuknya generasi muda yang terbuka, empatik, dan mampu hidup harmonis di tengah keberagaman.
Pada akhirnya, suasana Ramadan di SD Santa Maria 2 Ursulin Sidoarjo menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya nilai toleransi. Dari interaksi sederhana di ruang kelas hingga sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari, para siswa belajar bahwa menghormati perbedaan adalah bagian dari menjadi manusia yang utuh. Nilai inilah yang kelak akan mereka bawa ketika melangkah ke masyarakat yang lebih luas.
Penulis: Duncan Matthew Daunan, S.Fil.